Sabtu, 13 Agustus 2011

KECERDASAN BERBASIS IQ, EQ, DAN SQ


Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah yang paling uggul di antara makhluk-makhluk lainnya dan akan tetap menjadi unggul asalkan bisa menggunakan keunggulannya. Sebagai makhluk Allah yang unggul tentu diikuti dengan kecerdasan yang merupakan salah satu anugerah besar kepada manusia dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus-menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berfiki dan belajar serta aktualisasi diri (mewujudkan kualitas diri melalui perbuatan yang baik dan benar) secara terus-menerus, berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga saat ini menusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan peradaban hidupnya.
Sebenarnya para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang kecerdasan. Dalam rentang waktu dan sejarah panjang, mereka kini merumuskan secara umum kecerdasan menjadi tiga macam, IQ, EQ, dan SQ. mengapa para ahli membagi kecerdasan menjadi tiga macam?
Pada perkembangan sebelumnya manusia pernah sangat mengagungkan kemampuan otak dan daya nalar (IQ). Kemampuan berfikir dianggap sebagai primadona, sementara potensi diri yang lain dimarginalkan (dikesampingkan). Pola pikir dan cara pandang yang demikian telah melahirkan manusia terdidik dengan otak yang cerdas tetapi sikap, perilaku, dan pola hidup sangat kontras dengan kemampuan intelektualnya. Banyak orang yang cerdas secara akademik, tetapi gagal dalam pekerjaan dan kehidupan sosialnya. Fenomena tersebut telah menyadarkan para pakar, bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, ada yang salah dalam pola pembangunan sumber daya manusia (SDM) selama ini, yakni terlalu mengedepankan IQ, dengan mengabaikan EQ dan SQ.
A.    Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient/IQ)
IQ adalah kemampuan potensi seseorang untuk mempelajari sesuatu dengan menggunakan alat-alat berpikir. Digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan ini rat kaitannya dengan kemampuan kognitif (penalaran) yang dimiliki oleh individu. Untuk mengetahui IQ tersebut, terhadap sesorang harus dilakukan tes intelegensi dan dari hasil tes tersebut bisa terlihat gambaran “tingkat intelegensi” orang tersebut yang hasilnya disenut IQ. Kecerdasan ini terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan seseorang kemampuan untuk: berhitung, beranalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi (pembaruan). Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologi dengan “What I think” (apa yang saya pikirkan).

Selasa, 09 Agustus 2011

PENGEMBANGAN SEMANGAT KEWIRAUSAHAAN (ENTREPRENEURSHIP SPIRIT)


Akhir-akhir ini istilah kewirausahaan menjadi semakin popular setelah semua pihak menyadari peran strategis kewirausahaan. Peran strategis tersebut tidak hanya dilihat dari kepentingan individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara, tetapi juga sampai kepada pentingnya dunia internasional.
Kepentingan bagi individu dan keluarga sangat jelas, bahwa berwirausaha pada hakekatnya adalah mengangkat harkat dan martabat diri dan keluarga. Seseorang yang mandiri secara ekonomi akan lebih terangkat harkat dan martabatnya. Sedangkan bagi kepentingan masyarakat, sengan semakin banyaknya anggota masyarakat yang berwirausaha diharapkan dampak sosialnya akan positif, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mengurangi dampak negatif dari pengangguran dan kemiskinan.
Selanjutnya apabila dilihat dari kepentingan bangsa dan Negara, kewirausahaan ternyata mempunyai peran yang sangat dominan. Sampai-sampai seorang ahli psikologi menyatakan bahwa suatu Negara akan sejahtera apabila dari total penduduknya paling tidak ada 2% yang berwirausaha. Argumentasinya jelas bahwa dari 2% saja yang berwirausaha, dampaknya akan ke mana-mana, termasuk masalah pengangguran, kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi. Sebagai informasi saja, sampai saat ini Indonesia baru mencapai angka sekita0,2%. Hal ini meerupakan tantangan kita semua untuk mencapai angka minimal 2% wirausahawan. Itulah latar belakang mengapa upaya pengembangan kewirausahaan itu menjadi penting dan mendesak.
Dalam perkembangannya, sekarang dikenal adanya tiga kategori wirausaha yaitu: